This website works best with JavaScript enabled
BT Education 2 - шаблон joomla Создание сайтов

Tempe Production Process in RTI 

Forum Survey 

How Many Times Do You Eat Tempe in a Week?

Forum Tempe Indonesia (ITF) bekerjasama dengan Asosiasi Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Sumatera Utara, telah berhasil melakukan seminar sehari di "Tempe & Kesehatan" di Medan, Sumatera Utara, pada tanggal 7 Agustus 2014. Acara ini diselenggarakan di kesempatan peresmian ketua terpilih baru dan panitia PERSAGI di Provinsi Sumatera Utara. Hal ini diikuti oleh 285 peserta; sebagian besar ahli gizi anggota PERSAGI, dosen, mahasiswa, perwakilan dari Lembaga Pemerintah Daerah serta tempe dan tahu produsen di Medan.

Seminar ini diresmikan oleh Bapak Bambang Purwantoro atas nama Dr. Minarno, Ketua PERSAGI di Tingkat Nasional. Dia mengungkapkan rasa gratefull untuk USSEC dan ITF untuk mendukung PERSAGI dalam menyelenggarakan seminar di Medan. Ia mengakui peran penting dari tempe dalam makanan sehari-hari di Indonesia. Selain sebagai sumber protein, tempe juga menyediakan makanan sehat dan bergizi bagi keluarga dengan harga terjangkau. Di sisi lain citra tempe masih diasosiasikan sebagai makanan rendah dalam beberapa masyarakat dan masih ada beberapa informasi missleading pada efek negatif dari konsumsi soyfood. Oleh karena itu seminar ini yang ditargetkan terutama untuk ahli gizi yang sangat bermanfaat untuk mengatasi informasi missleading pada efek negatif dari konsumsi soyfood serta membangun kebanggaan tempe sebagai warisan makanan Indonesia dalam rangka meningkatkan citra tempe.

Dr Made Astawan, pembicara pertama mempresentasikan manfaat kesehatan kedelai dan produk turunannya. Dia menjelaskan fakta ilmiah tentang manfaat konsumsi soyfood dan mengatasi mitos dan misinformasi yang berkaitan dengan dampak kesehatan negatif dari konsumsi soyfood. Dadi Maskar disajikan topik Tempe, hadiah dari Indonesia ke dunia, kegiatan ITF dan disosialisasikan ke-6 Juni sebagai Hari Tempe Nasional. Pembicara terakhir adalah Mr. Lavinur, dosen di Politeknik Kesehatan Medan yang juga menjalankan bisnis tempe. Ia berbagi pengalamannya dalam memproduksi dan memasarkan kualitas yang baik tempe di Medan. Dia memulai busines di sekitar 12 tahun yang lalu, menghasilkan tempe dari sekitar 5-10 kg kedelai per hari dan menjual tempe kepada rekan-rekannya di universitas. Saat ini produksi tempe nya menggunakan 800 kg kedelai per hari, mempekerjakan 30 pekerja dan tempe nya dipasarkan di seluruh Kota Medan. Dia menyimpulkan bahwa menjalankan busines tempe baik untuk semua orang, yang menyediakan makanan yang baik bagi konsumen, memberikan kesempatan kerja bagi pekerja serta pendapatan yang baik.

Sesi sore dibahas tentang pentingnya mempromosikan konsumsi tempe kemungkinan pelaksanaan ITF Kegiatan oleh PERSAGI di Medan. Serupa dengan kondisi di daerah luar Jawa, tempe kurang populer di Medan dan Provinsi Sumatera Utara dibandingkan dengan produk pangan lainnya. Namun mengingat nilai dan kesehatan potensi manfaat nutritonal tempe, disepakati untuk lebih berupaya untuk program untuk mempromosikan konsumsi tempe di Medan. Semua pemangku kepentingan tempe di Medan menyambut positif ide dan mengakui perlunya program untuk mempromosikan tempe di Medan. PERSAGI dan Politeknik Kesehatan Medan telah setuju untuk menjadi titik fokus bagi kegiatan ITF di Medan dan Provinsi Sumatera Utara. Ibu Tetty Herta Doloksaribu, Dosen Senior di Politeknik Kesehatan Medan ditunjuk sebagai Koordinator ITF di Provinsi Sumatera Utara. Itu mengusulkan untuk mengimplementasikan beberapa program kegiatan untuk meningkatkan proses produksi tempe ditargetkan untuk tempe serta program promosi untuk meningkatkan tingkat konsumsi tempe ditargetkan kepada Konsumen.

#fc3424 #5835a1 #1975f2 #2fc86b #f_syc9 #eef12086 #150714100123