This website works best with JavaScript enabled
BT Education 2 - шаблон joomla Создание сайтов

Tempe Production Process in RTI 

Forum Survey 

How Many Times Do You Eat Tempe in a Week?

Tempe merupakan produk fermentasi kacang kedelai oleh kapang Rhizopus oligosporus. Tempe dibuat dengan proses yang unik, ditemukan beberapa abad lalu oleh nenek moyang Indonesia. Tempe sekarang sudah sangat dikenal oleh banyak penduduk di beberapa negara.  Bukti sejarah menunjukkan bahwa tempe dengan bahan dasar kedelai merupakan produk fermentasi yang pertama kali dibuat oleh masyarakat Jawa Tengah dan sudah biasa dikonsumsi sejak tahun 1700-an.

Tempe banyak diproduksi oleh industri kecil dan rumahtangga dengan kisaran produksi 10 kg – 2 ton per hari. Hingga saat ini terdapat lebih dari 100,000 produsen tempe yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Konsumsi tempe memberikan kontribusi minimal 10% dari total protein harian, sementara telur 1.25%, daging 3.15% dan sereal sekitar 60%. Data BPS (2012) menunjukkan bahwa konsumsi tempe masyarakat Indonesia secara rata-rata mencapai 7 kg/kapita/tahun.

Di Indonesia, tempe telah diterima sebagai salah satu pangan sehat dan bergizi tinggi. Meskipun demikian, tempe masih dianggap sebagai pangan kelas sosial ekonomi rendah. Hal ini menjadi salah satu alasan tempe masih kurang mendapat perhatian mendalam dari pemerintah, para pengambil kebijakan dan swasta sehingga perkembangan tempe di Indonesia relatif lamban.

Sementara itu, di beberapa negara lain, tempe justru mendapat perhatian besar, khususnya perhatian terhadap kandungan gizi tempe yang unik, yaitu tempe dapat digunakan untuk mengatasi masalah gizi kurang pada masyarakat miskin, serta potensi untuk mencegah penyakit kronis. Hal ini menjadikan tempe yang merupakan pangan asli dan tradisional masyarakat Indonesia berpotensi besar untuk diklaim dan diakui sebagai pangan asli negara lain.

Berdasarkan hal tersebut, perlu diciptakan persepsi yang lebih baik tentang tempe untuk menggantikan persepsi negatif tentang tempe sebagai pangan kelas sosial ekonomi rendah sehingga akan muncul persepsi tempe sebagai makanan tradisional yang  membanggakan.  Terinspirasi dari pengakuan UNESCO terhadap Batik dalam daftar “Intangible Cultural Heritage of Humanity”, tempe memiliki potensi yang besar untuk tercantum dalam daftar tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, tempe bukan sekedar makanan, tetapi memiliki nilai budaya, sejarah dan ekonomi bangsa. Karena keunikannya, tempe layak untuk menjadi simbol budaya Indonesia.

Dengan tercantum dalam daftar “Intangible Cultural Heritage of Humanity”, UNESCO, maka status tempe akan meningkat  baik bagi masyarakat Indonesia maupun dunia. Hal tersebut juga dapat memperbaiki status tempe yang selama ini dikenal sebagai pangan masyarakat miskin sehingga dapat dikonsumsi dengan bangga oleh semua kalangan.

Source : https://www.change.org/

Related Article :

  1. http://nasional.tempo.co/
  2. http://bisnis.tempo.co/
  3. http://m.tribunnews.com/
  4. http://www.merdeka.com/
  5. http://www.antaranews.com/
  6. http://lifestyle.sindonews.com/

 

 

 

#fc3424 #5835a1 #1975f2 #2fc86b #f_syc9 #eef12086 #150714100123