This website works best with JavaScript enabled
BT Education 2 - шаблон joomla Создание сайтов

Tentang Kami 

FTI bersifat independen, dan mengemban visi mengembangkan tempe untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat... Selengkapnya..

Kegiatan Kami 

FTI telah menerbitkan modul pelatihan tentang Penerapan Good Hygienic Practices (GHP) atau cara produksi yang higienis dalam proses produksi tempe. Selengkapnya...

Alamat Kami 

Jl. Cijahe II, No 12, Taman Yasmin Sektor V Tahap II Bogor 16113.
INDONESIA Phone/Fax: +62 251 753 1426
E-mail: forumtempe@forumtempe.org

Tempe Production Process in RTI 

Forum Survey 

How Many Times Do You Eat Tempe in a Week?

Belakangan ini marak berita terkait tempe kedelai GMO sebagai penyebab ketidakmampuan bereproduksi, penurunan kualitas sel sperma, mengubah fungsi DNA, dan sebagainya. Forum Tempe Indonesia (FTI) sebagai organisasi nirlaba yang peduli terhadap pengembangan UKM tempe di Indonesia berikut ini memberikan fakta ilmiah terkait isu negatif tersebut.

Apa itu GMO? GMO adalah singkatan dari Genetically Modified Organism yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Pangan Rekayasa Genetik (PRG), yaitu komoditas pertanian yang yang benihnya dihasilkan dengan menggunakan teknik pembibitan berbasis bioteknologi. Sama halnya dengan benih hibrida yang sudah banyak dikenal masyarakat pertanian Indonesia, bioteknologi adalah salah satu teknologi untuk memproduksi benih tanaman yang dikembangkan dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas pangan. Menurut Sutarno (2016), bioteknologi dibedakan atas bioteknologi tradisional dan modern. Bioteknologi tradisional adalah bioteknologi yang memanfaatkan mikrobia (organisme) untuk memodifikasi bahan dan lingkungan untuk memperoleh produk optimal. Contoh bioteknologi tradisional antara lain proses pembuatan tempe, tape, roti, dan proses pengomposan sampah. Bioteknologi modern ditandai dengan kemunculan teknologi rekayasa genetika (TRG). Berdasarkan makalah
ilmiah yang ditulis oleh Mahrus (2014) TRG dapat diartikan sebagai teknik mengkombinasikan dua atau beberapa gen dari tanaman yang sama atau tanaman yang berbeda untuk menghasilkan jenis tanaman baru dengan sifat tertentu misalnya tahan genangan air, tahan kekeringan, tahan terhadap serangan hama tertentu atau mengandung zat gizi tertentu. Kombinasi gen sebagaimana yang dijelaskan di atas dapat terjadi secara alamiah, tetapi membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun. Dengan demikian, TRG berperan penting tidak hanya untuk mempercepat proses kombinasi gen tersebut, tetapi juga sebagai langkah cepat untuk mengamankan pasokan pangan ditengah pertambahan jumlah penduduk serta perubahan iklim yang mengancam kelangsungan produksi pertanian.

Jenis tanaman PRG yang telah dikembangkan di Indonesia di antaranya adalah padi, tomat, tebu, pepaya, singkong, dan kentang, dengan menambahkan gen yang memiliki sifat resisten terhadap hama dan kekeringan. Pengembangan produk tanaman ini melibatkan beberapa universitas serta peran aktif dari lembaga riset yaitu Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Balai Besar Bioteknologi & Sumber Daya Genetika, Kementerian Pertanian Indonesia. Tanaman PRG yang beredar di Indonesia untuk benih, pakan dan pangan harus mendapatkan persetujuan dari Balai Kliring Keamanan Hayati Indonesia (BKKH). PRG untuk dikonsumsi sebagai pangan harus lolos pengujian alergi, toksisitas, dan uji pada hewan percobaan (Prianto dan Yudhasasmita 2017). Apabila produk transgenik sudah melalui beberapa uji dan dinyatakan aman, barulah produk transgenik tersebut dipasarkan. Sama halnya dengan kedelai transgenik (GMO), kedelai yang diekspor ke Indonesia merupakan kedelai yang telah melewati beberapa pengujian di daerah asalnya. Kedelai GMO tersebut sudah sesuai dengan Peraturan Kepala BPOM Tahun 2012 mengenai Pedoman Pengkajian Keamanan Pangan Produk Rekayasa Genetik. Kedelai impor yang masuk ke Indonesia dan diperdagangkan harus memenuhi persyaratan keamanan pangan sesuai Peraturan BPOM tersebut. Dengan demikian semua kedelai GMO yang beredar di Indonesia dipastikan aman.

Penelitian Maskar et al. (2015) menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kualitas protein antara tempe dari kedelai GMO dan non-GMO. Selanjutnya, tidak ada perbedaan aktivitas spermatogenesis tikus yang diberikan tempe dari kedelai GMO dan non-GMO. Hal tersebut menunjukkan kedelai GMO aman untuk dikonsumsi.

Menurut SNI, ciri-ciri tempe yang aman dikonsumsi yaitu berwarna putih merata pada seluruh permukaannya dan memiliki bau khas tempe tanpa adanya bau amoniak (BSN 2015). Standar Codex Regional Asia 2013 tentang tempe telah mendeskripsikan warna tempe sebagai “white color of luxurious growth of mycellium of Rhizopus spp”. Dengan demikian kedua standar tersebut menyepakati bahwa warna tempe yang alami adalah putih.

Beredarnya pesan melalui media sosial dan WA yang menganjurkan untuk memilih tempe yang kedelainya berwarna kuning adalah tidak tepat dan menyesatkan. Hasil penelitian di Rumah Tempe Indonesia (RTI) Bogor pada tahun 2019 membuktikan bahwa tidak terdapat perbedaan penampakan secara fisik antara tempe yang dibuat dari kedelai GMO dan kedelai lokal (non GMO), baik dari segi warna, rasa maupun aroma. Jadi sangat menyesatkan jika disebutkan bahwa tempe yang kedelainya berwarna kuning adalah lebih baik. Pada tahun 2017 tim dari Forum Tempe Indonesia pernah menemukan fenomena yang berbahaya akibat penggiringan opini bahwa tempe yang baik adalah yang kedelainya berwarna kuning. Beberapa oknum produsen tempe merendam kedelai dengan larutan pewarna tekstil kuning (methanyl yellow) agar kedelai pada tempenya tampak kuning menyala. Hal inilah yang justru harus dihindari karena berbahaya bagi kesehatan. Tempe dengan kedelai berwarna kuning pucat keputihan telah sesuai dengan semboyan back to nature.

Press Release Download

#fc3424 #5835a1 #1975f2 #2fc86b #f_syc9 #eef12086 #150714100123